Friday, May 14, 2010

Satu tahun lalu



Setahun yang lalu, 14 mei 2009. Sebuah peristiwa menegangkan, sekaligus menggembirakan. Persiapan, rasa was-was, perjuangan terbayar sudah ketika aku bisa mendekap bayiku, seketika itu. Ketika ia dilahirkan. Kupeluk, kudekap, kucium, kubelai.

Rambut halusnya yang tumbuh disekujur tubuhnya. Bahkan pipinya yang sekarang mulus, setahun lalu rapat ditumbuhi rambut halus. Pundaknya, punggungnya, tangan, kaki, dahi, bahkan kupingnya ditumbuhi rambut halus itu. Tubuh mungilnya yang merah, terlihat agak gelap akibat diselimuti rambut itu. Rambut tipis yang berwarna hitam, yang nantinya perlahan-lahan rontok satu persatu hingga kulitnya terlihat cerah.

Friday, August 07, 2009

Lingkaran Ekonomi

Hari ini.. 
Dalam perjalananku menuju stasiun sudirman, ku lihat sekelompok pemuda sedang duduk di jembatan.
Tiba-tiba mereka berlarian ke arah tengah jalan. Aku pikir.. Mereka akan naik bus yang ketika itu melaju dijalur tengah.

Ternyata tidak. Mereka mengejar sebuah mobil. Mereka berusaha menghentikan atau memperlambat laju sebuah mobil, alphard warna silver. Yang berada di depan mobil terlihat memukul pintu depan.

Sesaat kupikir mereka dendam pada orang di mobil itu, sehingga mereka melampiaskannya dengan merusak mobilnya. atau bisa juga, mereka adalah orang suruhan. Yang disuruh untuk mencelakai orang lain yang berada di dalam mobil alphard silver itu.

Kulihat lagi, mereka memukul pada spionnya. Sesaat kemudian mereka pun berlarian menyeberang jalan. Mereka menuju sisi lain jalan itu. Dan, akhirnya mobil itu mereka biarkan melaju tanpa kerusakan berarti. Hanya spion yang hilang dari badan alphard itu.

Seorang pria lusuh di jembatan memperhatikan dengan seksama apa yang segerombolan pemuda itu lakukan. Bahkan dia menghitung jumlah pelakunya. " satu, dua, tiga,..."

aku pun bertanya pada pria lusuh itu. Apa sih yang mereka lakukan. "mereka mengambil spion mobil itu,mba"

Berkomentarlah orang2 di sekitar lokasi. Berbagai macam komentar.

Aku? Aku memilih untuk menyimpan komentarku, untuk kutulis dalam catatan ini.

Ternyata dugaan motif dendam yang kulontar di awal itu salah. Motifnya adalah spion untuk dijual. Ya, motif ekonomi. Mencari penghasilan dengan cara mengambil paksa spion itu.

Aku pun jadi teringat seorang kawan. Sudah sering spion mobilnya dicuri orang. Terakhir (sudah lama sih aq ga ketemu), spionnya dicuri didepan mata supirnya. Supirnya pun berusaha mengejar pencuri itu. Tapi, tetap aja kalah gesit.

Kawanku pun akhirnya meng-grafir spionnya dengan nomer polisi mobil tersebut. Terakhir (saat itu tentunya.. Saat aku berada dalam mobilnya dan membicarakan tentang pencurian spion), spionnya masih utuh. Entah saat ini.

Kembali ke pencurian spion yang bermotif ekonomi itu. Pada prinsip ekonomi, ketika ada permintaan maka ada penawaran. Klo pun tak ada, maka akan diusahakan.

So, jika ada pencurian, maka si pencuri pasti berkeinginan untuk menjual. Dan, ketika ia menjual, pasti ada yang membeli. Dan, pembeli ini ada dua jenis, yang menjual kembali, atau yang menggunakan. Artinya, hasil akhir adalah pengguna spion itu, yaitu pemilik mobil.

So, mari kita pikirkan kembali lingkaran ekonomi ini.. Hehehe..

Friday, April 03, 2009

Siaran Pres: AIMI Sosialisasikan Pemberian Makanan Bayi pada Situasi Darurat


JAKARTA -- Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) mensosialisasikan cara pemberian makanan bayi ada situasi darurat, seperti yang dialami oleh bayi dan balita, korban bencana bobolnya tanggung Situ Gintung di Tangerang, Banten. Dalam situasi darurat seperti ini, pemberian Air Susu Ibu (ASI) kepada bayi harus diutamakan, harus dilindungi dan didukung.
Ketua Divisi Advokasi AIMI, Amanda Tasya mengatakan, untuk mengantisipasi kondisi darurat bagi bayi dan balita, dua lembaga kesehatan dunia yaitu UNICEF dan WHO, yang di Indonesia bersama-sama dengan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pada tanggal 7 Januari 2005 mengeluarkan rekomendasi bersama tentang Pemberian Makan Bayi pada Situasi Darurat. Lebih lanjut, Departemen Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 2007 pun telah mengeluarkan Pedoman Penanganan Gizi dalam Situasi Darurat.


Rekomendasi bersama tersebut didasarkan pada Kode Internasional Pemasaran Susu Formula WHO (”Kode WHO”) yang menyatakan bahwa pada operasi penanggulangan bencana, pemberian ASI pada bayi harus dilindungi, dipromosikan dan didukung.


Bagaimanapun, menyusui dalam kondisi darurat bencana menjadi lebih penting karena sangat terbatasnya sarana untuk menyiapkan susu formula, seperti air bersih, bahan bakar dan juga persediaan susu formula dalam jumlah yang memadai. ”Bahkan semua sumbangan susu formula atau produk makanan bayi lainnya, hanya boleh diberikan dalam keadaan terbatas dan harus ada ijin dari Dinas Kesehatan setempat,” kata Tasya.


Lebih rinci, rekomendasi bersama mengatur pemberian makanan utama bagi bayi, sebagai berikut :
1. Menyusui justru menjadi lebih penting karena sangat terbatasnya sarana untuk penyiapan susu formula, seperti air bersih, bahan bakar dan juga kesinambungan tersedianya susu formula dalam jumlah yang memadai.
2. Pemberian susu formula akan meningkatkan risiko terjadinya diare, kekurangan gizi dan kematian bayi.
3. Sumbangan susu formula yang diperoleh dari donor, maka distribusi maupun penggunaannya harus dimonitor oleh tenaga yang terlatih.


Pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) juga diatur dalam rekomendasi bersama tersebut antara lain disebutkan bahwa MPASI hanya boleh diberikan setelah bayi berusia 6 bulan, dibuat dengan bahan makanan lokal, MPASI harus mudah dicerna dan pemberiannya harus disesuaikan dengan umur dan gizi bayi serta makanan tersebut harus mengandung kalori dan nutrisi yang cukup.


Pemberian MPASI untuk bayi dan balita korban Situ Gintung


Untuk meringankan beban korban bencana Situ Gintung, AIMI memberikan bantuan berupa pemberian MPASI sehat untuk bayi dan balita di daerah tersebut. Ketua AIMI, Mia Sutanto mengatakan AIMI membuat dapur umum khusus untuk memasak MPASI yang kemudian didistribusikan kepada bayi dan balita di daerah Situ Gintung. ”Kami membuka dapur umum di rumah salah satu pengurus AIMI dan kemudian kami menyusun menu, memasak dan mendistribusikannya ke Situ Gintung,” kata Mia.


Mia menjelaskan, MPASI yang disediakan oleh AIMI diupayakan memenuhi ketentuan pemberian MPASI menurut rekomendasi WHO, UNICEF dan Departemen Kesehatan seperti menggunakan bahan makanan lokal, menggunakan peralatan yang higienis, bahan makanan mudah dicerna dan mengandung kecukupan gizi yang dianjurkan (energi, protein, vitamin dan mineral terutama Fe, vitamin A dan vitamin C).


Lebih lanjut Mia mengatakan, ini juga merupakan salah satu kampanye AIMI untuk mensosialisasikan pemberian MPASI sehat, segar dan berkualitas bagi bayi diatas 6 bulan. ”Kami ingin menyampaikan bahwa makanan sehat untuk bayi itu mudah dibuat sendiri di rumah, jauh lebih murah biayanya dan tentu lebih sehat daripada makanan instant.”

Biaya untuk pemberian MPASI kepada bayi dan balita korban bencana Situ Gintung ini diperoleh dari donasi para pengurus dan anggota AIMI, anggota milis ASIforbaby dan banyak pihak lainnya, melalui program ”AIMI Emergency Response for Situ Gintung” yang dibuka selama hampir satu minggu. Program ini, lanjut Mia, juga sejalan dengan tema Pekan ASI Sedunia yang akan digelar Agustus mendatang, yaitu ”Menyusui : Tanggapan Penting atas Keadaaan Darurat”. ***

Fact Sheet AIMI :


AIMI terbentuk dari kepedulian beberapa ibu mengenai pentingnya pemberian ASI untuk bayi secara eksklusif selama 6 bulan dan dilanjutkan hingga 2 tahun atau lebih. Saat ini dukungan untuk ibu yang memberikan ASI kepada bayinya dirasakan kurang, baik itu perhatian dan dukungan dari pemerintah, masyarakat umum dan instansi swasta.


Berbagai kegiatan telah dilakukan AIMI untuk menyosialisasikan ASI, antara lain kegiatan regular kelas edukasi AIMI dengan tema seputar ASI dan MP-ASI Sehat untuk Bayi, AIMI Goes to Office yaitu sosialisasi mengenai ASI yang dilakukan di kantor-kantor, Pemberian penghargaan kepada perusahaan mendukung pemberian ASI, konsultasi laktasi, dan kegiatan lainnya. ***


Contact Person AIMI:


Mia Sutanto, Ketua


HP: 081510002584


Yuyuk Andriati, Divisi Komunikasi


HP : 0811 971509


Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI)Graha MDS Lt.3Pusat Niaga Mas Fatmawati Blok B1/34Jln. RS Fatmawati No. 39 Jakarta Telpon : 021-72790165 Fax: 021-72790166http://www.aimi-asi.org/

Wednesday, October 08, 2008

start new look

Dear All,

Lama sekali rasanya aku tak menengok blog ini. Ada beberapa blog yang aku miliki, ternyata tak semuanya bisa aku tangani.

Ke depan, aku akan mengkatifkan blog ini. Tulisan, foto dan berbagai hal yang ada di blog ku yang lain akan aku update di blog ini.

Semoga blog ini dapat memenuhi keinginanku untuk berbagi dan berinteraksi dengan unlimited people. Amin.

Wednesday, August 06, 2008

Itulah bedanya

Suamiku dan aku adalah dua kepribadian yang sangat berbeda. Aku adalah orang yang heboh ketika tertarik pada sesuatu. Orang yang menggebu-gebu dalam meraih sesuatu, namun jika apa yang kuinginkan tidak segera kuraiih, maka aku akan segera berpaling mencari yang lain. Sedangkan dia, adalah orang yang merencanakan sesuatu secara matang dengan berbagai pertimbangan. Ketika ia memutuskan akan melakukan sesuatu, maka ia akan konsisten melakukan prosesnya.

Aku adalah orang pemimpi. Aku punya banyak mimpi. Mulai dari mimpi keliling dunia, hingga mimpi punya usaha sendiri. Namun ya itu. Sampai saat ini aku belum keliling dunia, baru keliling Indonesia, dan juga belum punya usaha sendiri.

Suatu saat dalam perjalanan di dalam kereta listrik dari bogor ke jakarta, aku menceritakan temanku (suami istri) yang baru memiliki anak, telah memiliki usaha persewaan peralatan bayi.
"Hebat ya, mereka bisa berbisnis. Padahal mereka berdua kerja fulltime loh..."
"Memang siapa yang mengurus bisnisnya?"
"Ya mereka berdua, ditambah dengan saudara mereka untuk operasional sehari-hari"
"Kamu ingin bikin bisnis?"
"Iyalah, dari dulu juga ingin. Tapi ga tau kapan bisa mulai?"
"Perbedaan orang sukses dan pemimpi adalah orang sukses melakukan apa yang kamu hanya pikirkan, bayangkan, impikan."

Duh... Itu kalimat yang sangat telak.

Dari dulu, aku selalu bermimpi punya usaha sendiri. Dengan begitu aku tidak lagi menjadi orang gajian, tapi sebaliknya, aku menggaji orang. Dengan punya usaha sendiri, aku bermimpi memiliki waktu yang lebih fleksibel dan cukup untuk memberikan perhatian pada anak-anakku. Aku bermimpi memiliki toko online, sehingga konsumenku bukan hanya lokal tapi juga internasional.

Aku pun sempat berkolaborasi dengan dua teman untuk mewujudkan toko online. Kami merencanakan situs dengan konsep minimalis. Kami pelajari cara bertransaksi online. Suplier pun didata dan ditanya bagaimana kerjasama yang biasanya dilakukan. Tempat hosting pun sudah direncanakan. Berapa budget yang diperlukan diawal pendirian pun sudah dihitung. Tapi rencana tinggal rencana, karena konsep hanya berakhir di atas kertas. Toko itu belum terwujud hingga detik ini.

Kalau sudah seperti itu, aku jadi bahan ledekan suami. Hehe... Sadar diri juga sih... Mimpi boleh besar, tapi nyatanya wujud belum terlihat.

Suamiku selalu memotivasi aku, meskipun dengan bahasa meledek. Apa yang dikatakan benar juga sih... Tapi terkadang membuatku terpojok dan merasa tak berdaya. Kalau sudah di posisi tak berdaya, aku menyudahi perbincangan dengan ketus. Bahasa jawanya sih "mutung". Hehe... Soalnya sudah speachless. Mau membantah juga percuma, karena apa yang ia katakan benar. Tapi mau mengiyakan, aku gengsi.

Untunglah, ia selalu mendukung keputusan yang akhirnya aku buat. Baik keputusan untuk tetap bekerja, dan menunda membuat sebuah bisnis. Ataupun ketika aku memutuskan untuk berjualan kecil-kecilan, sambil tetap bekerja.

Tapi, tiap kali aku mengeluhkan lagi kok mimpiku belum terwujud. Ia pun mengulangi kalimat ampuhnya yang membuat aku langsung terdiam.

"Itulah bedanya orang sukses dan pemimpi. Orang sukses melakukan apa yang kamu hanya pikirkan, bayangkan, impikan," tukasnya.

Sunday, June 22, 2008

Parenting #2: Siapa yang ditiru?

Kita telah mengetahui dari tulisan sebelumnya, bahwa bayi memiliki kemampuan luar biasa untuk meniru. Bahkan, kelak ketika ia dewasa, ia menjadi cerminan lingkungan yang membentuknya. Pertanyaan saat ini adalah, Siapa yang ditiru bayi? Tentu saja, lingkungan yang setiap hari berinteraksi dengannya. Apa isi lingkungan itu? Anda yang paling tahu apa isi lingkungan terdekatnya.

Isinya bisa berupa benda mati atau pun hidup. Bisa berupa berbagai media elektronik, manusia, hewan, mainan, dan sebagainya. Lingkungan ini berisikan berbagai macam hal yang secara sengaja maupun tidak kita letakkan di sekitarnya.

Apa saja yang akan ditiru bayi? Semuanya! Ya! Semuanya. Apa yang ia lihat, apa yang ia dengar, apa yang ia rasakan, apa yang ia bau akan ia rekam dalam memory bawah sadarnya. Setelah ia rekam, ketika suatu saat situasi dan kondisi memungkinkan, ia akan mengeluarkan pengetahuan/kemampuan/tiruan itu.

Jika bayi meniru semuanya, apakah bayi bisa memilah sesuatu patut untuk ditiru atau tidak? Jawabannya adalah TIDAK! Bayi tidak bisa memilah mana yang patut dan tidak patut, karena ini adalah ukuran normatif. Yang ia lakukan adalah menyerap semuanya. Kemampuan luar biasa bayi - meniru, digunakan seperti spon yang menyerap air. Bedanya dengan spon, jika spon itu sudah penuh terisi air, spon tidak akan menyerap lagi. Tapi pikiran bawah sadar bayi tidak memiliki batasan, alias UNLIMITED! Wow!

Yup! Itulah yang mengagumkan dari bayi, ia memiliki kemampuan untuk menyerap berbagai informasi, baik yang menurut kita penting ataupun tidak, tanpa batasan. So, siapa yang bertanggung jawab terhadap seluruh informasi yang diterima oleh bayi? Orang tua!♥ Selvie

Parenting #1: Kemampuan Luar Biasa Bayi

Apa yang paling mengagumkan dari seorang bayi atau balita? Matanya yang berbinar? Senyumnya yang menggemaskan? Kulitnya yang lembut?

Tahukah anda hal apa yang lebih mengagumkan dibalik keimutan fisiknya? Tahukah anda kemampuan luar biasa apa yang dimiliki oleh setiap bayi yang dilahirkan? Kemampuan yang hanya dimiliki oleh setiap bayi baru lahir hingga usia balita? Kemampuan yang sulit dimiliki orang dewasa? Kemampuan yang bisa mewarnai dirinya ?

Kemampuan itu adalah kemampuan yang luar biasa untuk mencontoh lingkungannya. Ya! Itu adalah kemampuan yang luar biasa. Kenapa luar biasa? Karena dari NOTHING jadi EVERYTHING!!!

Yup! Ketika bayi baru lahir dia belum memiliki kemampuan untuk tersenyum, bicara, melambaikan tangan. Dia hanya tahu menangis. Tapi ketika ia melihat pertama kali orang, dan orang itu tersenyum, maka ia akan merekam senyuman itu, dan ketika ia berada pada situasi yang mirip maka ia akan mengulang hal tersebut: TERSENYUM!

Ia melihat, dan menirukan secara mengagumkan. Ia mencontoh lingkungan. Hingga kelak ketika dewasa, ia adalah cerminan lingkungan yang membentuknya. ♥ Selvie

Friday, June 06, 2008

Rafi Mengintip dari Jendela

Rafi, anak pertamaku selalu menyambut pulang kami berdua dengan senyuman, tawa dan ajakan bermain bola. Hal itu ia lakukan ketika pintu rumah kami buka. Maka ia akan segera bangun dari duduknya, dan mendatangi kami yang masih di depan pintu. Kemudian ia akan menebarkan senyuman manisnya, atau ia akan segera menceritakan berbagai hal dengan bahasa yang kami tidak mengerti, alias bahasa planet... Hehe.. Itulah julukan kami pada bahasanya. Setelah kami masuk, ia akan mengikuti kami kemana saja, mulai dari meletakkan sepatu dan tas, serta menunjukkan sikap tak sabar untuk segera bermain. Terkadang ia akan segera mengambil bola, dan menarik tangan salah satu dari kami untuk bermain bola bersamanya.

Suatu hari, sekitar 2 minggu yang lalu, ketika pulang kerja aku membuka pagar rumah, aku melihat wajah yang tidak asing sedang menyibak tirai jendela rumahku. Rafi, anakku yang baru berusia 21 bulan. Wajah itupun tersenyum lebar begitu melihatku. Aku pun membalas senyuman itu. Dengan segera aku pun menghampiri jendela itu... Ia semakin antusias. Ketika aku buka pintu rumah, ia bergegas turun dari sofa, tempat ia berdiri supaya bisa mengintip ke luar rumah.

"Assalamualaikum," ucapku
"..lam" ucap Rafi, dia memang baru bisa mengucapkan suku kata yang paling belakang.

Rafi pun bergegas ke luar pintu untuk melihat Abi-nya.

Hari selanjutnya, hal itu terulang. Begitu aku membuka pintu pagar rumah, aku menemui wajah Rafi di balik jendela. Ia menyibakkan tirai dengan tangan mungilnya. Aku pun memberitahu suamiku, "rafi ada di jendela". Dengan antusias, Abinya Rafi pun membunyikan klakson. Air muka Rafipun berubah semakin senang. Apalagi, setelah motor diparkir, Abi pun bermain ciluk ba dengan Rafi yang masih mengintip dari balik jendela.

Rafi ketawa hingga terbahak-bahak. Aku dan suamiku pun tertawa. Menyenangkan sekali. Saat pulang pun menjadi saat yang ditunggu Rafi dan kami. Dan, setiap pulang pun, aku selalu mengharapkan sambutan Rafi dari balik jendela.

Hal itu menjadi kebiasaan setiap pulang ke rumah. Dan, rafi pun dengan setia menunggu dibalik jendela. Kami menantikan wajah mungilnya muncul dibalik tirai jendela. Begitu juga dengan Rafi, setiap kali ia mendengar suara motor Abi-nya, maka ia selalu bergegas naik ke atas sofa (untuk mencapai jendela), dan membuka tirai untuk melihat siapa yang datang.

Hmm... Jadi tak sabar ingin cepat sampai rumah...

Monday, May 26, 2008

Gizi tetap terpenuhi meski harga minyak melambung

Apa pengaruh harga minyak yang melambung dengan gizi? Saya yakin sebagian besar orang akan menjawab: berpengaruh. Hal ini terjadi karena jika dilihat, dalam masyarakat modern, ketergantungan terhadap penyedia produk makanan sangat tinggi. Semakin sulit melihat pekarangan rumah yang ditanami oleh berbagai sayur mayur (vitamin, serat, dll), ubi (karbohidrat, dll), bumbu-bumbu dapur, buah-buahan dan sebagainya.

Padahal dengan menanam hal-hal tersebut di rumah, kita tidak perlu mengeluarkan ongkos, untuk naik kendaraan, menuju tempat penjualan berbagai makanan tersebut. Artinya, kita tidak perlu membayar penggunaan bahan bakar minyak (BBM).

Bagaimana dengan produk yang harus dibeli, seperti produk susu, beras? Kita bisa menggantinya dengan makanan yang gizinya tidak kalah. Misal susu, manfaat apa yang kita ambil dari susu? Sebagian besar adalah Kalsium dan vitamin. Kalsium bisa diperoleh dari makanan lain, semisal teri, ikan asin, tanaman biji-bijian. Vitamin, bisa diperoleh dari konsumsi buah dan sayuran. Jenis buah yang memiliki beragam vitamin adalah pisang dan pepaya. Tak perlu beli yang impor, karena pisang dan pepaya adalah buah yang mudah tumbuh dimana saja di Indonesia ini. Kenapa tidak kita galakkan saja penanaman pisang dan pepaya di pekarangan rumah masing-masing?

Kemudian, komoditi lain yang sering membuat orang Indonesia kelimpungan, yaitu beras. Apa yang kita ambil dari beras? Karbohidrat kan! Dan, sumber karbohidrat bukan hanya beras. Ada ubi, sagu dan jagung, bahkan sayur mayur dan buah-buahan pun mengadung karbohidrat. Jadi, makan nasi bukanlah suatu keharusan. Ini hanyalah sebuah kebiasaan saja. Dan, kebiasaan itu bisa diubah.

Jika kebiasaan sudah diubah, saya yakin setiap kenaikan harga BBM tidak akan membawa pengaruh yang signifikan untuk kita. Setiap orang yang ingin survive, ia harus berubah sesuai dengan tuntutan diri dan lingkungannya. Sekarang, pekerjaan rumah kita adalah menyiapkan strategi memberikan gizi yang optimal dengan tidak tergantung pada pihak luar. Jadi, mari kita tanami kembali pekarangan kita dengan berbagai tumbuhan bermanfaat.

Kreatif Menyikapi naiknya BBM

Harga BBM yang naik cukup signifikan memang cukup meresahkan bagi orang-orang yang tergantung dengan bahan bakar minyak. Seandainya saja, bangsa kita (pemerintah dan rakyat) bersama-sama mengoptimalkan pemakaian bahan bakar alternatif, saya rasa kenaikan bahan bakar minyak (yang membuat kita sangat tergantung dengan negara luar) menjadi tidak begitu penting.

Hal ini (baca: pemanfaatan bahan bakar alternatif) perlu mendapat dukungan seluruh pihak. Mulai dari ide kreatif hingga aplikasi dan distribusi, tidak bisa hanya dilakukan oleh satu pihak, pemerintah saja, swasta saja, ataupun rakyat saja.

Menurut saya, momen ini adalah kesempatan bagi bangsa Indonesia untuk menapakkan langkah ke jenjang yang lebih bermartabat, menggunakan energi ramah lingkungan.

Hal ini juga berarti, kita memberdayakan potensi diri sendiri. Misal dengan memanfaatkan tanaman jarak, pembuatan biogas, dan mungkin nanti akan mucul ide kreatif lainnya. Rakyat Indonesia kan terkenal sebagai rakyat yang kreatif. Oleh karena itu kita memiliki keberagaman yang sangat tinggi mulai dari budaya hingga hayati. Jadi, mari kita manfaatkan potensi diri kita untuk tidak tergantung pada sumber daya yang suatu saat akan habis , yaitu minyak. Mari kita enyahkan ketergantungan dengan pihak luar. Mari menjadi kreatif dan mandiri.